Huan El Autri
Membahas Masa Depan Bangsa

Kompas Membuat Kekeliruan Fatal

kekeliruan kompas

kekeliruan kompas

Apa yang akan terjadi jika sebuah perusahaan pemberitaan memiliki kesalahan fatal?. apalagi pemberitaan itu diberitakan oleh surat kabar berkelas  Kompas. ini kali kedua saya menemukan “keganjilan” dalam pemberitaan harian nasional surat kabar terkemuka Kompas. Pertama kali saya baca dari seorang komentator dalam blog Kompas Inside. Si komentator mengemukakan keberatannya, karena pemberitaan Kompas dinilai telah melakukan pengalihan rumor sehingga pendapat  publik (menyimpang). Pemberitaan Kompas pada setiapkali memuat berita tentang lumpur Lapindo selalu menyebutnya dengan Lumpur Porong!.
Saat itu saya tidak terlalu memberi perhatian, apalagi memihak dan setuju 100% kepada si komentator.

Sebagaimana pembaca ’setia’ Kompas pada umumnya, saya tetap lebih mempercayai Kompas apapun yang terjadi. Sikap saya itu tentu saja dipengaruhi oleh citra (baca: pencitraan) yang telah dibangun Kompas selama kurun waktu 40 tahun lebih.

Kedua kalinya, bermula ketika saya membuka website Kompas.com 14 Juni 2008. Seperti biasa, setelah membaca Kompas.com saya lanjutkan membaca halaman Kompas Cetak. Saya menilai dua halaman website tersebut memiliki proporsi pemberitaan yang berbeda. Lagi-lagi saya percaya bahwa isi dalam Kompas Cetak sama dengan isi berita yang dicetak yang distribusikan ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan mancanegara.

Perhatian saya kemudian jatuh pada pilihan pemberitaan tentang Hillary Clinton yang telah dibaca sebanyak: 151 pembaca. Kebetulan selama kurun waktu 16 Minggu kebelakang saya mengikuti perkembangan politik menjelang pemilu AS November 2008.

Hasil pengamatan saya itu pun berbuah pada beberapa posting dalam blog saya, baik mengenai Barack Obama maupun Hillary Clinton utamanya. Maklum proses konvensi nasional dua partai besar AS ini begitu berbeda, terutama partai Demokrat (Barack Obama dan Hillary Clinton). Proses transisi politik yang bisa saja dihubungkan sebagai salasatu sebab kenaikan harga minyak dunia (Krisis Ekonomi dan Politik Amerika).

Pada paragraf pertama berita Dimanakah Hillary Clinton pada saat ini?, saya tak bereraksi sedikit pun, tetap berkonsentrasi pada berita. Hingga pada paragraf kedua, saya kaget dan heran.

Bagi saya itu tidak masuk akal. Apa mungkin Hillary Clinton yang 35 tahun lebih anggota dan senator dari partai Demokrat menjadi calon kandidat presiden dari partai Republik? Tidak masuk akal.

Itu sama saja menganggap (memberitakan) Akbar Tanjung, seorang tokoh partai Golkar sebagai mantan calon presiden dari partai PDI Perjuangan. Apa jadinya jika itu diberitakan keseluruh Indonesia dan Dunia? Konyol.

Akhirnya saya memutuskan melakukan klarifikasi pemberitaan kepada pihak redaksi Kompas. Melalui email saya meminta klarifikasi tentang pemberitaan yang keliru dan salah besar (fatal).

Hal itu saya lakukan setelah meneliti (membaca pemberitaan Kompas) berulang-ulang, untuk memastikan kekeliruan—bisa saja saya tidak teliti membacanya. Kejelasan itu berakhir ketika saya membaca bagian penutup kalimat berita Kompas terdapat kalimat: berbicara mengenai kampanye presiden. (CNN/joe)— yang artinya berita disadur dari CNN.

Setelah menelusuri tautan dan meneliti pemberitaan Kompas dalam website CNN tersebut saya menemukan kejelasan. Jelas 100% salah!. Pihak Kompas telah melakukan kesalahan penterjemahan berita.

Berikut ini paragraf yang salah diterjemahkan:

Is she camping out in her Georgetown home or is the former presicential candidat back at her Chappaqua estate? Perhaps she ventured to an isolated vacation spot, far removed from cable news and the political chattering class (lihat sumber berita).

Oleh Kompas diterjemahkan menjadi:

Apakah ia tengah berkemah di kampung halamannya, Georgetown, atau mantan kandidat dari Partai Republik itu kembali ke Chappaqua? Mungkin saja ia tengah menikmati liburan jauh dari televisi kabel dan ingar- bingar politik. (lihat sumber berita)

Apa jadinya jika keteledoran pemberitaan semacam itu diketahui oleh pihak Hillary Clinton?

Apa jadinya jika ternyata berita-berita yang telah diterbitkan selama ini terdapat kesalahan dan atau memang disengaja sebagaimana pendapat si komentator tadi?

Wah apa jadinya kalau sebenarnya mutu pemberitaan Kompas memang telah menyeleweng (Jurnalisme Kepiting)?

Pembaca yang budiman, mungkin kini saatnya kita meneliti dan menghindari percaya membabi buta-kepada industri media yang terbukti telah mengingkari sejarahnya sebagai Pers Perjuangan.

No Responses Yet to “Kompas Membuat Kekeliruan Fatal”

Leave a Reply